Pages

Powered by Blogger.
 
Showing posts with label VERSUS. Show all posts
Showing posts with label VERSUS. Show all posts
Saturday, March 19, 2011

Perang 6 Produsen Motherboard -




 Part 1
Chipset KT266A kian populer saja. Performanya sudah tak perlu diragukan lagi, sehingga makin banyak produsen motherboard yg berlomba-lomba mengeluarkan motherboard KT266A andalannya.
Ada 6 produsen motherboard kelas kakap yg akan saling berjual beli pukulan disini, yaitu ABIT, ASUS, EPOX, CHAINTECH, MSI, dan SOYO.
Siapakah yg akan pulang dengan kursi roda? Siapakah yg akan berjalan pulang dengan satu kaki? Siapakah yg akan terbaring lesu diatas tandu?
Simak saja tawuran berikut ini.....
Chipset AMD761 memang patut dikenang akan kesuksesannya memelopori lahirnya chipset DDR utk motherboard socket-A. Namun masa-masa jayanya telah usai.
Awal kehancuncuran chipset AMD761 dimulai semenjak kekalahan motherboard AMD761 tercepat (ABIT KG7) oleh motherboard KT266A kelas value (CHAINTECH 7VJDA) yg harganya jauh lebih murah.
Kekalahan tsb telah dibahas di artikel yg lalu, dan semenjak itu pula motherboard AMD761 tak layak dibeli lagi karena sekarang telah tiba jamannya KT266A....
Moterboard berchipset VIA KT266A sudah semakin matang & dewasa, meski VIA merupakan produsen yg sering melepas chipset yg masih prematur ke pasaran sehingga kerap menimbulkan bug, namun support dan update driver yg diberikan VIA boleh dibilang yg terbaik di dunia.
Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini chipset KT266A adalah chipsert socket-A yg tercepat dan cukup matang. Memang chipset KT333 sudah melambai-lambai diambang pintu, tapi kematangannya patut dipertanyakan, selain itu perbedaan performanya masih kurang signifikan dibanding KT266A yg notabene jauh lebih matang.
Jadi pilihan terbaik utk saat ini adalah mengambil motherboard berchipset KT266A atau menunggu saja motherboard KT333A (bukan KT333), sebab umumnya chipset VIA yg tanpa kode"A" nasibnya selalu berakhir tragis. Ini sudah terbukti pada chipset KT133 dan KT266 yg layak dibilang sebagai produk gagal.
Sebelum menyimak perbandingan fasiltas dan hasil benchmark motherboard KT266A, ada baiknya anda melihat dulu keterangan singkat masing-masing peserta yg akan saling berjual beli pukulan...

EPOX 8KHA+ : OVERCLOKING FSB TERTINGGI

Bila ada kompetitor ABIT yg utama dalam hal overclock, EPOX adalah musuh ABIT yg pantas disebut.
Akhir-akhir ini motherboard EPOX memang berhasil mencuri hati para overcloker berkat pemberian fasilitas overcloking yg tidak dimiliki pesaingnya.
EPOX 8KHA+ merupakan motherboard KT266A pertama yg muncul dipasaran. Sudah menjadi rahasia umum bahwa resiko tampil sebagai yg pertama adalah menghadapi berbagai bug.
Di awal-awal peluncurannya EPOX memang sempat mengalami bug, yaitu problem hang sewaktu restart.
Namun pada motherboard yg beredar sekarang telah dilakukan penggantian chip BIOS dan revisi BIOS utk menghilangkan problem ini.
Meski di masa-masa awal peluncurannya tersandung masalah, tapi tak dapat disangkal bahwa EPOX adalah motherboard yg memiliki fasilitas overcloking terlengkap. Motherboard ini memiliki berbagai fasilitas overclocking yg tak dimiliki motherboard lain. Jadi tidaklah mengherankan bila motherboard ini telah berhasil meraih 30 international awards.
Dalam hal performa motherboard ini hanya bergerak dari posisi 1 s/d 3 saja. Bahkan dalam kondisi overclock, seringkali motherboard ini menempati posisi pertama.

ABIT KR7A /RAID : PEMBALASAN SI RAJA TWEAKING

Sebelum kehadiran ABIT KR7A, EPOX 8KHA+ boleh dibilang sebagai pilihan tunggal untuk overclocking.
Namun setelah kehadiran KR7A, EPOX 8KHA+ tak sendirian lagi.

ABIT KR7A memang merupakan motherboard KT266A yg paling terakhir diluncurkan ke pasaran.
Seperti kebiasaan lamanya, ABIT selalu takut utk menjadi yg pertama. ABIT boleh dibilang sebagai produsen yg tak memandang penting arti "keperawanan" & "yang pertama"

Meski para engineer ABIT sudah diberi waktu bertapa yg cukup lama utk meningkatkan kemampuannya, namun masih ada kekurangan pada kelengkapan fasilitas overcloking yg dimiliki motherboard ini.
Dalam hal kemampuan & kelengkapan overclocking ABIT memang masih harus mengakui keunggulan sesepuh motherboard KT266A yaitu EPOX 8KHA+. Namun dalam hal performa, jerih payah dan kesabaran ABIT tidaklah sia-sia. Sebab ABIT mampu menyajikan perfroma terbaik pada tingkat FSB yg sama.
Pada setting BIOSnya terlihat jelas bahwa ABIT KR7A dikaruniai jurus-jurus andalan tersendiri yg tak dimiliki motherboard lain.

ASUS A7V266E : PERFORMA TAK PERLU DIRAGUKAN

Tidak ada orang yg tak kenal ASUS. Promosinya yg gencar telah membuat orang yg awam di dunia komputer sekalipun pasti tahu siapa ASUS.
Motherboard ASUS selama ini terkenal akan kualitas, performa, dan harganya yg cenderung lebih mahal.
Ketiga unsur ini terbersit pula pada A7V266E.
Dalam kondisi pengujian dgn FSB standard sulit bagi motherboard lain utk meredam keberingasan A7V266E. Hanya ABIT yg terkadang masih sanggup menjinakkan motherboard ini pada FSB standard.
Namun dalam hal kemampuan overclocking FSB, motherboard ini tak mampu berkiprah sebaik ABIT & EPOX.
ASUS memang tampaknya tak berkonsentrasi pada kemampuan overclocking motherboard ini.
ASUS lebih memfokuskan pada performa yg cepat dalam kondisi FSB standard.
Sungguh disayangkan pula harga A7V266E yg mahal tsb telah membuat beberapa orang terpaksa mundur teratur.

SOYO K7V DRAGON PLUS! : KEREN & SUPER LENGKAP

Dalam hal kelengkapan fasilitas, tak ada motherboard lain di dunia ini yg cukup royal dalam memberikan fasilitas seperti K7V DRAGON PLUS.
Pada sekujur tubuh motherboard ini penuh bertatahkan fasilitas seperti onboard RAID, sound 6-channel, dan LAN. Ditambah lagi adanya bonus Smart Card Reader yg sungguh merupakan sesuatu yg cukup mencengangkan.
SOYO memang tampaknya memfokuskan pada kelengkapan fasilitas. Ini terlihat dari arti nama DRAGON yg dipilih
Kata DRAGON sendiri tsb merupakan singkatan dari:
D=DDR
R=RAID
A=Audio onboard 6-channel
G=Graphic AGP Pro
O=Overcloking
N=Network 10/100 MBps.

Selain sarat bermuatan fasilitas, sosok penampilan luarnya juga cukup klimis & berkharisma.
Tubuhnya yg berwarna coklat tua cukup serasi ketika dikombinasikan dgn slot PCI berwarna ungu.
Performa motherboard ini juga tidak mengecewakan. Meski performanya bukan tandingan ABIT & EPOX, namun dalam beberapa benchmark, sang naga mampu menjinakkan ASUS pada pengujian dalam kondisi overclock FSB.

CHAINTECH 7KJD : LENGKAP DAN SUPER MURAH

Ada satu hal yg sulit dipercaya pada motherboard ini, yaitu harganya yg TERLALU MURAH untuk ukuran motherboard yg fasilitasnya lengkap dan memiliki fasiltas overclocking yg cukup lengkap.
Keheranan terhadap harga yg murah ini semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa motherboard ini ternyata menggunakaan sound onboard (hardware) 6 channel.
Chip sound onboard semacam ini jelas jauh lebih baik dibanding AC97 CODEC (software) yg dipergunakan pada motherboard EPOX dan MSI.
Tidak hanya itu, fasilitas Hardisk Instant Recovery merupakan inovasi bermanfaat yg akan menjaga keselamatan data anda.
Dalam hal performa, harus diakui bahwa tidak mungkin 7VJDA yg notabene motherboard kelas value mampu mengalahkan motherboard high-end seperti ABIT, EPOX, ASUS, dan SOYO. Namun yg patut dipuji adalah keberhasilan CHAINTECH 7VJDA utk mendongkel MSI K7T266PRO2 pada beberapa benchmark.

MSI K7T266 PRO2 /RU : MERAH & BERDARAH-DARAH 
 
Warna merah menyolok memang mungkin mencuri perhatian anda. Tapi daya tarik warna yg dipancarkan motherboard ini tak lebih seperti efek lampu di wisma prostitusi yg membuat para wanita terlihat lebih indah dari aslinya.
Meski warnanya terlihat menjanjikan, namun setelah digarap lebih mendalam, ternyata kinerja motherboard ini biasa-biasa saja.
Jangankan bermimpi utk mengalahkan ABIT, EPOX, ASUS, dan SOYO, bahkan utk mengalahkan CHAINTECH saja kadang motherboard MSI ini sering kesulitan.
Meski performanya patut dicela, namun motherboard ini masih mencoba menyuguhkan sesuatu yg lain drpd yg lain, yaitu support USB2. Namun konyolnya, saat ini sangat langka peralatan yg menggunakan interface USB2. Jadi sajian dari MSI ini tak ubahnya ibarat pepesan kosong belaka.
Kalaupun suatu ketika perangkat USB2 mulai banyak tersedia, saat itu VIA pasti sudah memberikan support USB2 pada chip southbridgenya, sehingga hampir dipastikan saat itu semua motherboard VIA bakal mensupport USB2.
Fasilitas sound onboard yg ditawarkan MSI pun ternyata masih chip AC97 CODEC yg notabene memperburuk kinerja system. Ini jelas bukan tandingan chip sound onboard 6-channel pada motherboard CHAINTECH, SOYO, dan ASUS.
Meskipun demikian, motherboard ini bisa jadi merupakan pilihan yg menarik bagi orang yg sangat menyukai warna merah.

PERBANDINGAN SECARA DETAIL

- Topik 1: Perbandingan Feature & Layout hardware
Kategori ini membahas tentang perbandingan aspek-aspek feature & layout motherboard seperti fan nortbridge, northbridge thermal paste, kapasitas memory maximal, slot memory, slot AGP, chip sound onboard, jumlah MOSFET, LED indicator, thermistor, Diagnostic indicator, onboard buzzer, RAID controller, fasilitas S.M.A.R.T
- Topik 2: Perbandingan fasilitas di BIOS utk tweaking & overclocking
Kategori ini membahas tentang perbandingan fasilitas setting di BIOS, seperti setting VCore, multiplier, FSB, Voltage DDR, fasilitas tweaking, dan PCI Latency Timer. (topik ini dibahas di Page 2)
- Topik 3: Special Feature, Plus & Minus
Kategori ini membahas tentang fasilitas special yg dimiliki motherboard, dan kelebihan & kekurangan yg dimilkinya. (topik ini dibahas di Page 3)
- Benchmarking
Berisi hasil pengujian performa ke-6 motherboard. (topik ini dibahas di Page 4)


TOPIK 1: FEATURE & LAYOUT HARDWARE


PERBANDINGAN FAN NORTHBRIDGE

Pendinginan pada northbridge merupakan hal yg penting, sebab chip nortbirdge selalu bekerja keras utk mengatur laju tranfer data antara CPU-AGP-System Memory.
Mengingat beban kerja northbridge yg berat tsb, keberadaan fan pendingin pada heatsink nortbridge merupakan syarat minimal utk menjaga kestabilan. Dalam kondisi overcloking FSB, chip nortbridge akan semakin panas dan nburuknya poendinginan pada nortbridge dapat mengakibatkan crash, maupun rusaknya chip nortbridge. Cukup banyak motherboard yg menemui ajal ketika dioverclock di FSB tinggi akibat buruknya pendinginan pada northbridge.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

Meskipun 8KHA+ menggunakan heatsink&fan yg terlihat biasa-biasa saja pada northbridgenya, namun ini sudah cukup utk menghantar motherboard ini melaju hingga FSB170 dgn penuh rasa percaya diri.
Sama seperti pada 8KHA+, KR7A menggunakan heatsink&fan yg penampilannya biasa-biasa saja, namun ini sudah cukup memuaskan.
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON Fan nortbridge pada A7V266E menggunakan design khusus utk mengarahkan udara udara panas dari northbridge agar tidak tersembur ke arah socket CPU Sama seperti pada A7V266E, fan nortbridge pada motherboard SOYO memiliki bentuk unik yg juga dimaksudkan utk mengarahkan buangan hawa panas dari northbridge CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2 7VJDA adalah satu-satunya motherboard KT266A yg memiliki heatsink northbridge paling besar. Dengan ukuran yg besar seperti ini fan tak lagi diperlukan.
Namun bila anda menambahkan fan, tentu pendinginannya akan jauh lebih bagus lagi dibanding para pesaingnya Pendinginan northbridge pada K7T266PRO2 adalah yg PALING PARAH. Selain heatsinknya cuma memiliki sedikit kisi-kisi, MSI juga terlalu pelit sehingga tak sudi menyertakan fan. Akibatnya suhu chip northbridge menjadi cukup panas

MSI MERAH & MEMBARA !!
Sesuai dgn warnanya yg merah, suhu chipset northbridge K7T266PRO2 cukup panas membara akibat jeleknya pendinginan pada northbridge motherboard ini.
Dengan menggunakan Laser-thermometer, terlihat bahwa suhu permukaan heatsink northbridge-nya saja sudah 48C, apalagi suhu chip northbridgenya !
Dalam hal pendinginan northbridge semua motherboard memberikan solusi yg bagus kecuali MSI.
MSI tampaknya terlalu sibuk mengurus warna pada motherboardnya daripada memikirkan solusi yg baik utk mendinginkan chip northbridgenya.

PERBANDINGAN THERMAL-PASTE PADA CHIP NORTHBRIDGE

Thermal paste poada chip nortbridge merupakan hal yg pentiong. Sebab tanpanya, tranfer panas tak akan berlangsung dgn baik. Heatsink nortbridge yg bagus sekalipun akan sia-sia bila tidak dipasang menggunakan thermal paste yg bagus dan merata.
Cukup disayangkan bahwa CHAINTECH dan MSI tidak menggunakan thermal paste tapi menggunakan thermal sticker yg daya hantar panasnya tidak sebaik thermal paste.
Ukuran heatsink nortbridge 7VJDA yg besar setidaknya masih menolong, namun ada baiknya anda menggantinya sendiri dgn thermal paste.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

EPOX sadar bahwa motherboard mereka bakal dioverclock di kisaran FSB166 keatas. Oleh karena itu polesan thermal paste pada northberidge cukup rata dan kental.
Sebagai produsen motherboard overcloker, ABIT SUNGGUH BERDOSA karena hanya memberikan sedikit sekali polesan thermal paste pada chipset northbridge.
Tindakan Ini sungguh berbahaya, karena dengan kondisi seperti ini chip northbridge dapat rusak kepanasan bila motherboard dioverclock terlalu tinggi.
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON

ASUS cukup royal dalam mengoleskan thermal paste pada chipset northbridge-nya.
SOYO sama sekali tidak mengoleskan thermal paste pada chipset northbridgenya. Namun di dalam box motherboard disertakan thermal paste utk anda oleskan sendi
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

Heatsink northbridge
ditempel menggunakan thermal sticker
Heatsink northbridge
ditempel menggunakan thermal sticker



PERBANDINGAN KAPASITAS MEMORY MAXIMAL, SLOT MEMORY, SLOT AGP

Kapasitas memory maximal memang bukan merupakn hal penting bagi sebagian besar orang, terutam bagi yg merasa bahwa harga memory DDR cukup mahal.
Namun jumlah slot memory lebih penting karena akan mempermudah upgrade di kemudian hari.
Sebagai contoh: Dengan jumlah slot memory sebanyak 4 slot anda dapat menggunakan keping 256MB utk mencapai total memory 1GB. Namun apabila slot memory yg tersedia hanya 3 dan anda menginginkan kapasitas memory 1GB, maka anda harus menggunakan keping 512MB yg keberadaannya cukup jarang.
Selain jumlah slot, jarak antara slot memory dan slot AGP juga akan mempengaruhi kemudahan pemasangan keping memory mapun videocard.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

8KHA+ memiliki 3 slot memory. Kapasitas memory yg dapat ditampung maximal cuma 1.5GB saja. Ini merupakan motherboard dgn kapasitas memory paling rendah dibanding motherboard KT266A lainnya.
Posisi slot memory cukup jauh dari slot AGP sehingga Videocard yg terpasang tidak kan menghalangi klip pengait memory.
Slot AGP dilengkapi retention clip agar videocard tidak mudah terlepas dari tempatnya. Meskipun ini demi keamanan naum bagi orag yg sering bongakr pasang justru dapat merepotkan karena mempersulit kita utk melepas Videocard yg terpasang (jari kita harus membuka pengaitrnya dulu)
KR7A merupakan motherboard yg memiliki slot memory terbanyak. Kapasitas maximal memory hingga 4GB dimungkinkan berkat penggunaan 4 slot memory.
Bila memory yg digunakan tipe Unbuffered, kapasitas maximal berkurang menjadi 3GB.
Posisi slot DIMM dgn slot AGP kurang jauh sehingga videocard yg terpasang akan menghalangi slot DIMM1, namun ini bukan masalah sebab urutan pemasangan memory dimulai dari slot DIMM4.
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON PLUS

A7V266E memiliki 3 slot DIMM, dengan total kapasitas memory 3GB.
Jarajk ntara slot DIMM dgn slot AGP cukup jauh ke arah samping, sehingga sepanjang apapun VGA card tetap tidak akan mennghalangi klip slot DIMM.
Motherboard ini menggunakan slot AGP Pro. Namun hingga saat ini belum ada Videocard yg dapat memanfaatkan slot AGP Pro
K7V Dragon Plus juga memilki 3 slot DIMM dengan kapasitas maximal 3GB (bila menggunkana unbuffered DDR).
Sama seperti A7V266E, posis slot DIMM K7V Dragon Plus cukup jauh ke arah samping, sehingga sepanjang apaun videocard anda pasti tidak akan menghalangi pengait slot DIMM.
Motherboard ini juga menggunakan slot AGP Pro yg saat ini masih belum berguna.
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2  7VJDA memiliki 3 slot DIMM dengan kapasitas maximal 3GB.
Untuk ukuran motherboard kelas value ini merupakan kemewahan, sebab 8KHA+ yg kelas high-end saja cuma mampu menampung memory hingga 1.5GB saja.
Posisi slot DIMM terlalu dekat dgn slot AGP sehingga videoard yg terpasang dapat menghaligi pemasangan memory di DIMM3, bila videocard cukup panjang bukan tidak mungkin seluruh slot terhalang videocard
K7T266PRO2 juga memiliki 3 slot DIMM dengan kapasitas maximal 3GB.
Posisi slot DIMM kurang jauh dari slot AGP sehingga pengait DIMM1 terbentur Videocrad. Bila videocard panjang tentu saja akan menyulitkan pemasangan memory di seluruh slot DIMM.
Slot AGP dilengkapi AGP rentention. Meskipun merupakan fasiltas extra, tapi justru merepotkan bongkar pasang videocard.

Dalam hal jumlah slot memory jelas ABIT juaranya, namun dalam hal layout slot DIMM & slot AGP jelas ASUS dan SOYO yg patut diacungi jempol.



PERBANDINGAN CHIP ONBOARD SOUND

Keberadaan chip Onboard sound boleh dibilang penting, terutama bagi kalangan yg mengutamakan budget.
Semua motherboard yg diuji memiliki chip sound onboard kecuali ABIT KR7A. Mungkin ABIT berpikir bahwa konsumennya pasti kalangan atas yg tidak akan puas dgn suara dari onboard sound, sehingga minimal pasti pakai soundcard SB Live value .
Memang performa kulaitas chip sound onboard AC97 kurang memuaskan, karena chip AC97 adalah AUDIO CODEC yg mengemulasikan suara secara software, sehingga sangat menurunkan kinerja system
Namun perlu juga diingat bahwa utk mendapat SB Live yg termurah anda harus merogoh sekitar $40 dari kocek anda.
Untunglah beberapa motherboard ada yg dilengkapi chip sound onboard HARDWARE 6-Channel yg notabene sama dgn soundcard dan jauh lebih bagus dibanding chip sound onboard AC97 (Software)

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

Meski tergolong sebagai motherboard overcloker, EPOX tak lupa menyertakan sound onboard AC97. Meski chip AC97 tergolong chip Audio Software yg SANGAT menurunkan kinerja system, namun paling tidak anda masih bisa menikmati suara sambil menabung utk membeli Sound Card TIDAK ADA
ONBOARD SOUND
ABIT berkeyakinan bahwa orang yg mampu membeli ABIT pasti mampu membeli sound card yg mahal seperti SB Live/Audigy, sehingga ABIT tidak merasa perlu menyertakan chip sound onboard


ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON

Berbeda dgn ABIT, ASUS masih mau menambahkan chip Sound-onboard pada motherboardnya. Namun chip yg digunakan bukanlah chip AC97 tapi chip Audio Hardware CMEDIA 6-Channel, yg notabene SAMA seperti soundcard dan tidak menurnukan kinerja system seperti sound AC97.
Sama seperti ASUS, SOYO juga mematri chip audio hardware CMEDIA8738 yg mensupport 6 Channel (5.1).
 
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

Sebagai produsen motherboard kelas value, CHAINTECH patut dipuji karena mau bermurah hati menyertakan chip CMEDIA 8738 6-channel.
Selain tidak menurunkan kinerja system, adanya chip audio hardware ini membuat penggunanya tak perlu membeli sound card lagi.
Meski harga K7T266PRO2 jauh lebih mahal dibanding 7VJDA, MSI tak mau menggunakan chip CMEDIA, sebaliknya MSI hanya menggunakan chip Audio software AC97 yg notabene menurunkan kinerja system Audio bracket CHAINTECH & ASUS hanya menyediakan konektor rear-channel dan center-channel Audio bracket SOYO adalah yg paling lengkap.
Selain connector rear & center channel, juga ada SPDIF in/out dan bahkan OPTICAL in/out !!!
Dalam hal onboard sound, jelas ASUS, SOYO, dan CHAINTECH yg memenagkan kompetisi.
Ketiga motherboard ini menggunakan chip CMEDIA 8738 6-channel yg merupakan alternatif yg ekonomis namun sama bagusnya dgn soundcard.

Namun solusi audio yg disajikan SOYO terlihat lebih menarik karena SOYO menyertakan bracket yg dilengkapi fasilitas lengkap seperti terlihat pada gambar di samping kanan ini.

PERBANDINGAN JUMLAH MOSFET

MOSFET merupakan komponen yg bertugas mengatur tegangan pada motherboard/CPU. Dengan jumlah MOSFET yg banyak arus yg disupply lebih besar sehingga dapat meningkatkan kestabilan baik dalam kondisi standard maupun overclock.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

8KHA+ memiliki jumlah MOSFET sebanyak 6 buah.
3 buah diatas dan 3 dibawah
KR7A memiliki jumlah MOSFET sebanyak 6 buah.
Untuk kestabilan overclock ABIT menggunakan system power 3-phase.
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON A7V266E hanya memiliki jumlah MOSFET sebanyak 4 buah saja.
ASUS hanya menerpakan system power 2-phase pada motherboard ini.
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2
Meski tergolong moterboard value, namun 7VJDA memiliki jumlah MOSFET paling banyak yaitu 8 buah !
4 buah diatas dan 4 dibawah
K7T266PRO2 hanya memiliki jumlah MOSFET sebanyak 4 buah saja.
Terlihat jelas bahwa MSI melakukan KORUPSI pada 2 buah MOSFET yg seharusnya tersolder di motherboard ini. Selain itu MSI juga hanya menerapkan system power 2-phase.

PERBANDINGAN LED INDICATOR

LED indicator tampaknya merupakan hal sepele namun cukup penting. LED Indicator power-On memang tidak terlalu berguna karena pada casing juga sudah terdapat LED power-on. Dan lagi anda juga pasti tahu bahwa komputer sedang menyala dari suara fan yg dihasilkan.
Namun LED indicator yg paling penting keberadaannya adalah LED indicator Standby.
LED indicator standby akan tetap menyala meski komputer telah di-shutdown. Ini berguna untuk memperingatkan pemakai bahwa meski komputer telah mati, namun selama komputer masih menancap di stop-kontak, maka masih ada arus listrik yg mengalir di motherboard, sehingga melepas videocard ataupun memory dalam kondisi seperti ini dapat merusak komponen.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

8KHA+ tidak memiliki LED indicator standby.
Yang terlihat diatas hanyalah indicator power-on yg notabene tidak berguna, karena kita pasti juga tahu kalau komputer sedang menyala.
KR7A merupakan motherboard yg memiliki LED indicator terlengkap. Selain indicator power-on (D16), terdapat indicator standby (D14) yg jelas-jelas sangat berguna.
Selain itu juga terdapat pula LED indicator reset (D17) yg menyala jika kita menekan tombol reset, yg satu ini kurang berguna.
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON Berbeda dgn 8KHA+ yg tidak meilki LED indicator standby, A7V266E memiliki LED indicator tsb. Sehingga anda dapat ingat jika motherboard masih dialiri listrik.
Sama seperti A7V266E, K7V Dragon Plus juga memiliki LED indicator standby
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

TIDAK ADA
LED INDICATOR

TIDAK ADA
LED INDICATOR

Dalam hal LED indicator, KR7A yg bertatahkan LED indicator jelas menjadi pemenangnya.

PERBANDINGAN THERMISTOR (SENSOR SUHU CPU)

Thermistor merupakan sarana vital utk memantau temperatur CPU. Nyawa CPU anda akan tergantung pada akurasi dari thermistor tsb.
Dalam hal menentukan mana thermistor yg bagus, maka hanya para wanita yg dapat menjawab.
Para WANITA tahu bahwa UKURAN ADALAH SEGALANYA. Mereka tahu bahwa makin panjang pastilah makin bagus. Thermistor yg panjang akan mampu menyentuh dasar CPU sehingga deteksi suhu akan lebih akurat.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

Bentuk thermistor menonjol sehingga cukup dekat dgn dasar CPU
Thermistor KR7A ukurannya paling panjang sehingga dapat bersentuhan dgn dasar CPU. Dengan begitu deteksi suhu akan lebih akurat
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON

Thermistor A7V266E rata dgn permukaan motherboard sehingga jarak antara sensor dgn dasar CPU cukup jauh. Ini mengakibatkan deteksi suhu akan kurang akurat
Sama seperti pada A7V266E, Soyo menempatkan thermistornya rata dgn motherboard sehingga deteksi suhu akan kurang akurat
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

Bentuk Thermostor pada 7VJDA mirip dgn thermistor pada 8KHA+, meskipun memanjang tapi tidak sepanjang thermistor KR7A.
Namun paling tidak, deteksi suhu motherboard ini akan lebih akurat dibanding motherboard ASUS, SOYO, dan MSI
Sama seperti pada motherboard ASUS dan SOYO, Thermisor K7T266PRO2 ditempatkan rata dgn motherboard sehingga terdapat jarak yg jauh antara thermistor dan dasar CPU.
Jelas deteksi suhu CPU tidak akan akurat pada motherboard MSI ini

Melihat perbandingan thermistor diatas, jelas ABIT yg akan lebih mampu memuaskan, karena thermistor yg dimilikinya paling panjang.

PERBANDINGAN POST DEBUG INDICATOR (PORT 80)

POST Debug Indicator berguna utk mendiagnosa maslaah yg timbul apabila komputer gagal booting.
Dengan adanya fasiltas ini anda dapt mengetahui apakah komputer tidak mau menyala karena problem pada VGA, memory, atau karena sebab lain.

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A

8KHA+ merupakan satu-satunya motherboard KT266A yg memilki Debug Indicator 7-Segmen. Penafsiran kode error akan lebih mudah dgn cara ini
TIDAK ADA
POST DEBUG INDICATOR

ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON

TIDAK ADA
POST DEBUG INDICATOR

TIDAK ADA
POST DEBUG INDICATOR

CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

TIDAK ADA
POST DEBUG INDICATOR

Debug Indicator pada K7T266E menggunakan 4 buah LED yg terdapat pada USB bracket. Penafsiran pesan error akan jauh lebih sulit dibanding Indicator pada 8KHA+, karena anda harus menghafal urutan LED yg menyala.
POST Debug Indicator yg hilang pada motherboard MSI K7T266PRO2
Pada MSI K7T266PRO2 RU (with RAID dan USB2), POST Debug indicator terdapat pada motherboard, tepatnya di antara connector serial & audio.
Namun anehnya MSI menghilangkan POST Debug indicator tsb pada K7T266PRO2 (versi non-RAID, non-USB2).
Sebagai gantinya, digunakan POST debug indicator yg terdapat pada USB bracket.

PERBANDINGAN ONBOARD BUZZER

Onboard buzzer merupakan speaker kecil sebagai pengganti speaker casing (system speaker).
Dengan adanya onboard buzzer, anda tak perlu lagi repot-repot menghubungkan speaker casing ke motherboard.
Meskipun keberadaan onboard buzzer (system speaker) tampak sepele, tapi suara beep yg dihasilkan dapat mengindikasikan jenis error yg mungkin terjadi. Onboard buzzer dapat dipergunakan sebagai alat diagnostik sederhana apabila motherboard tidak memiliki POST Debug indicator

EPOX 8KHA+ ABIT KR7A TIDAK ADA
ONBOARD BUZZER

TIDAK ADA
ONBOARD BUZZER

ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON

TIDAK ADA
ONBOARD BUZZER
CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2

PERBANDINGAN ONBOARD RAID CONTROLLER

Bagi kalangan server & video editing keberaaan onboard RAID controller sangat penting. Sebab performa harddisk yg bagus sungguh mereka idam-idamkan. Adanya onboard RAOD controller juga didambakan orang memilki banyak IDE device terpasang pada komputernya. Apabila anda memiliki lebih dari 5 device IDE seperti misal CDROM, CDRW, DVD dan 2 buah hardisk, maka anda jelas membutuhkan motherboard yg memiliki onboard RAID controller.
EPOX 8KHA+ ABIT KR7A RAID TIDAK ADA RAID CONTROLLER Sungguh mengejutkan bahwa sebagai motherboard kelas high-end, EPOX 8KHA+ ternyata tidak memilki versi yg dilengkapi RAID controller.
Hal ini semata karena pada 8KHA+ tidak ada lagi ruang tersisa utk menempatkan chip RAID controller.
Bagi yg mendambakan RAID jalan satu-satunya adalah membeli card RAID controller PCI. RAID PCI card konon lebih tahan dalam kondisi FSB tinggi dibandingkan chip RAID onboard.Chip HPT372 yg digunakan pada KR7A RAID sudah mensupport ATA133 dan memiliki fasiltas RAID yg lengkap yaitu RAID 0 (striping), RAID 0 (mirroring), dan RAID 0+1.Meski hardisk yg terpasang pada channel HPT372 tidak harus di-RAID, namun anda tidak dapat memasang CDROM/CDRW pada channel HPT372
ASUS A7V266E SOYO K7V DRAGON A7V2766E menggunakan chip PROMISE PDC20265R versi LITE. Selain masih menggunkan ATA100, chip ini hanya mensupport RAID 0 dan RAID 1. RAID 0+1 tidak dimungkinkan.
Sama seperti A7V266E, K7V Dragon Plus juga menggunakan chip PROMISE PDC20265R versi LITE. Chip RAID controller ATA100 ini hanya mensupport RAID 0 dan RAID 1. RAID 0+1 tidak dimungkinkan.
Anda harus menggunakan jumper utk mengfungsikan channel PROMISE sebagai channel IDE biasa.Namun berbeda dgn HPT372, pada channel PROMISE anda masih dapat memasang CDROM & CDRW CHAINTECH 7VJDA MSI K7T266 PRO2
TIDAK ADA RAID CONTROLLER Karena diposisikan sebagai motherboard kelas value CHAINTECH tidak merasa pelu menyertakan RAID controller pada 7VJDA sama seperti ASUS dan SOYO, MSI juga menggunakan chip PROMISE PDC20265R versi LITE (ATA100) yg hanya mensupport RAID 0 dan RAID 1. RAID 0+1 tidak bisa dilakukan Dalam hal onboard RAID controller jelas ABIT pemenangnya, ini karena KR7A RAID dilengkapi chip HPT372 yg sudah mensupport ATA133 dan memiliki FULL RAID support (RAID, 0, 1, 0+1).

POSISI SOCKET KABEL POWER SUPPLY

Posisi socket kabel power supply pada motherboard tampaknya merupakan hal sepele. Namun setelah motherboard terpasang di dalam casing anda akan tahu dampaknya.....

ABIT KR7A,
ASUS A7V266E EPOX 8KHA+
SOYO K7V DRAGON ,
MSI K7T266 PRO2,
CHAINTECH 7VJDA

Pada ABIT KR7A dan ASUS A7V266E, posisi socket power supply berada di sampikng kana (dekat slot DIMM), sehingga juntaian kabel power tidak akan menghalangi aliran udara di atas heatsink CPU EPOX, SOYO, MSI, dan CHAINTECH menempatkan posisi socket Power supply di sisi kiri (dekat connector port serial), sehingga juntaian kabel power akan memblokade aliran udara di atas heatsink CPU Dalam hal penempatan posisi socket power supply jelas ABIT dan ASUS yg tampil sebagai pasangan juara.

FASILITAS S.M.A.R.T

Banyak orang yg mengabaikan adanya fasilitas SMART pada motherboard. Padahal dengan mengaktifkan SMART anda dapat mengetahui apakah hardisk anda berada dalam marabahaya.
SMART dapat mendeteksi & memperingatkan terlebih dahulu apabila harddisk anda mulai tidak beres, sehingga masih ada waktu utk menyelamatkan data-data penting anda.Sungguh disesalkan bahwa produsen motherboard kelas high-end seperti EPOX dan ABIT ternyata melupakan fasilitas SMART yg cukup penting ini.
Mungkin EPOX dan ABIT menganggap bahwa kalangan overclocker adalah orang yg tidak terlalu mempermasalahkan kehilangan data.
Memang pendapat tsb ada benarnya, sebab logikanya bila anda takut kehilangan data anda pasti tidak akan melakukan overclock.

FASILITAS S.M.A.R.T
EPOX 8KHA+ TIDAK ADA
ABIT KR7A /RAID TIDAK ADA
ASUS A7V266E ADA
SOYO K7V DRAGON ADA
CHAINTECH 7VJDA ADA
MSI K7T266 PRO2 /RU ADA

AMD VS INTEL2


   
 



    AMD Versus Intel - By Budzkay  Part 2



BENCHMARK SYSMARK 2002 - OFFICE PRODUCTIVITY

. . Default
P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 218

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 $160 197

AthlonFX-51/2.2Ghz(fsb200,mem200)
VIA K8T800, Registered DDR $700 189

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 175

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 169

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 165


Sysmark 2002 Internet Content Creation adalah benchmark yg menggunakan aplikasi betulan untuk menguji kinerja sistem.
Aplikasi yg diujikan yaitu Microsoft Office, Dragon Naturally Speaking, Netscape Communicator, WinZip, dan McAfee VirusScan.
Adanya L3 cache 2MB pada P4 3.2EE memberikan peningkatan kinerja yg lebih besar lagi dibanding pada pengujian Internet Content Creation. P4 3.2 yg berjalan standard sudah jauh meninggalkan P4 2.4C@3.3 yg notabene berjalan di CPU clock, FSB, dan memory clock yg lebioh tinggi.
Athlon FX-51 seharga $700 dan Athlon64 3200 segharga $500 terbukti jauh elbih pelan dibanding P4 2.4C@3.3 yg cuma seharga $160.
Sementara itu AXP1700 yg dikalahkan oleh P4 2.4C standard pada pengujian sebelumnya, kini mampu membalas kekalahannya, meski keunggulannya hanya sedikit saja diatas P4 2.4C standard.



KATEGORI 4: VIDEO EDITING/ENCODING

DivX 5.05 (Vidomi)

. . DVD "Sweet Little 18" durasi 22menit
. . Konversi DVD (.vob) ke DIVX (.divx)
maximum quality
(menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 19:20

P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 19:21

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 20:45

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 $160 20:45

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 21:23

AthlonFX-51/2.2Ghz(fsb200,mem200)
VIA K8T800, Registered DDR $700 21:24

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 23:25

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 $50 23:45

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 28:16


Proses encoding DVD ke DIVX merupakan hal yg penting dalam hidup ini karena 2 hal :
1. Sebagian besar judul film-film porno yg bermutu hanya ada di DVD saja.
2. DIVX mampu menampung film DVD kedalam sebuah keping CD, dengan kualitas gambar yg setara DVD.
3. Untuk menonton film DIVX yg berkualitas DVD anda tidak harus memilki DVDROM, tapi cukup menggunakan CDROM saja.
Beberapa tahun yg lalu untuk mengkonversi dari film berdurasi 1,5 jam ke format DIVX membutuhkan waktu 5 jam lebih. Tapi sekarang dengan prosesor-prosesor terbaru, proses encoding bahkan dapat berlangsung lebih cepat drpd durasi film itu sendiri.
P4 3.2@3.6 seharga $900 menjadi pemimpin di klasemen atas, dan diikuti oleh P4 2.4C@3.3 seharga $160.
Perbedaan kinerja encoding antara P4 3.2EE@3.6 dengan P4 2.4C@3.3 terpaut sekitar 1 menit 20 detik (durasi movie 22menit), jadi bila anda meng-encode movie berdurasi 1,5 jam maka perbedaan waktunya akan menjadi sekitar 6 menit 30 detik.
Bagi yg merasa selisih waktu 6 menit adalah waktu yg lama anda bisa memilih P4 3.2EE@3.6 seharga $900, namun bagi yg cukup sabar menanti kelambatan selama 6 menit, maka P4 2.4C@3.3 seharga $160 layak dipilih.

Athlon FX-51seharga $700 ternyata melakukan proses encoding lebih lambat 39 detik dibanding P4 2.4C@3,.3 yg harganya cuma $160. Ini berarti untuk movie berdurasi 1,5 jam, Athlon FX-51 akan memproses lebih lambat 4 MENIT dibanding P4 2.4C@3.3. Tentunya hanya orang idiot yg rela membayar 5X lebih mahal hanya untuk merasakan sesuatu yg malah lebih lambat.

Athlon64 3200 yg harganya cukup mahal ($500) malah memberikan kinerja encoding yg jauh lebih lambat dibanding P4 2.4C@3.3 ($160). Selisih waktunya mencapai 2 menit 40 detik. Ini berarti untuk meng-encode movie berdurasi 1,5 jam, selisih waktu antara kedua prosesor tersebut akan menjadi 16 MENIT !!!! 16 menit adalah waktu yg termasuk lama karena dapat dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan apa saja. Survey bahkan membuktikan bahwa 75% pria melakukan hubungan sex dengan waktu yg tidak mencapai 16 menit.
Kalau dilihat lebih seksama, perbedaan kinerja encoding antara Athlon64 3200 seharga $500 dengan AthlonXP 1700@3300 seharga $50 sebenarnya hanya terpaut 20 detik saja. Seorang anak idiot sekalipun pasti merasa selisih harga $450 terlalu mahal untuk membayar selisih waktu yg hanya sebesar 20 detik saja.

Proses encoding DIVX pada P4 terbukti hanya mengandalkan pada tingginya CPU clock saja. Setting FSB yg lebih tinggi ataupun memory clock yg lebih tinggi tak membawa pengaruh apapun.



DVDX 2.0 (Pentium4 optimized & 3DNOW optimized version)

. . DVD "Sweet Little 18" durasi 10 menit
. . Konversi DVD (.vob) ke VCD (.mpg)
maximum quality
(menit:detik)
AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 09:30

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 12:41

P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 12:50

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 14:04

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 14:04

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 14:10

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 18:55


Seiring dengan makin maraknya movie di keping DVD, pamor VCD makin tenggelam. Namun proses encoding DVD ke VCD masih merupakan hal yg penting, terutama untuk produksi VCD bagi konsumsi kaum melarat yg tak mampu membeli DVD player.
Software DVDX 2.0 terdiri dari 2 versi, yaitu versi khusus yg hanya bisa dijalankan pada Pentium4 (SSE2 optimized) dan yg satu lagi untuk dijalankan pada AMD Athlon dan P3 (3DNow/SSE/MMX optimized).
Cukup mengejutkan bahwa AthlonXP 1700@3300 ternyata berhasil memimpin di posisi puncak dengan selisih kinerja yg cukup banyak dibanding dengan P4 3.2EE@3.6 sekalipun.
Hasil ini cukup mengherankan, dan mungkin diakibatkan karena versi aplikasi yg digunakan utk Intel dan AMD memang berbeda. Namun mengingat DVDX versi P4 tidak dapat dijalankan pada prosesor AMD, maka pengujian tidak dapat menggunakan versi aplikasi yg sama. Jadi untuk saat ini kita tetap harus menerima kenyataan bahwa AXP1700@3300 adalah rajanya konversi DVD ke VCD (menggunakan DVDX versi AMD).



KATEGORI 5: APLIKASI DESIGN 3D

3D STUDIO MAX 5 (Support HyperThreading)

. . ISLAND - 1 frames (702x306)
(menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 0:12

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 0:12

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 0:13

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 0:13

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 0:14

AthlonFX-51/2.2Ghz(fsb200,mem200)
VIA K8T800, Registered DDR $700 0:15

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 0:17

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 0:18

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 0:19


3D Studio Max 5 adalah software yg paling poluler di kalangan designer 3D, dan software ini sudah mendukung penuh HyperThreading yg berarti memberikan angin segar bagi laskar Intel.
P4 3.2@3.6 mempimpin di posisi puncak dan P4 2.4@3.3 menempel ketat di belakangnya.
Laskar terbaru AMD yaitu Athlon FX-51 dan Athlon64 3200 ternyata dipermalukan habis-habisan di ajang pertarungan ini.
P4 2.4C@3.3 seharga cuma $160 dengan mudah mengkanvaskan Athlon FX-51 ($700), dan sang veteran tua
Athlon XP1700@3300 yg notabene cuma seharga $50 ternyata bahkan sanggup mengalahkan Athlon64 3200 seharga $500.



. . DRAGON RIG - 1 frames (1024x768)
(menit:detik)
P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 1:24

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 1:24

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 1:27

AthlonFX-51/2.2Ghz(fsb200,mem200)
VIA K8T800, Registered DDR $700 1:28

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 1:37

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 1:38

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 1:57


Sama seperti pengujian sebelumnya dengan gambar ISLAND, pada pengujian kali ini berlaku hasil yg senada.
P4 2.4C@3.3 seharga $160 berhasil membabat habis seluruh laskar mewah AMD, yaitu Athlon FX-51 ($700) dan Athlon64 3200 ($500).
Bahkan Athlon64 3200 harus pasrah ditaklukkan oleh sang veteran tua, AXP1700@3300 yg cuma seharga $50.



. . RABBIT animation - 100 frames
NTSC DV (720x480) (menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 11:10

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 11:13

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 $160 $160 12:12

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 12:15

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 12:22

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 $50 13:16

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 16:33


Pada pengujian dengan menggunakan animasi RABBIT, terlihat jelas bahwa overclocking dengan menaikkan FSB dari 225 ke 277 cukup membawa dampak. Sedangkan penggunaan memory clock tinggi (222MHz) dengan timing lambat (CL2-6-3-3) memberikan hasil yg lebih buruk dibanding memory clock rendah (185MHz) dengan timing gegas (CL2-5-2-2).
Sekali lagi terbukti bahwa menaikkan FSB jauh lebih berguna drpd menaikkan memory clock.



CINEBENCH 2003 (CINEMA 4D XL 8)

. . RAYTRACING (CB)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 432

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 431

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 398

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 398

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 386

AthlonFX-51/2.2Ghz(fsb200,mem200)
VIA K8T800, Registered DDR $700 308

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 292

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 289

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 281


Cinebench 2003 merupakan benchmark yg menggunakan engine yg sama dengan Software Cimena 4D XL 8 yg cukup populer di kalangan animator 3D. Software ini mendukung dual CPU maupun Hyperthreading.
Cukup mustahil tentunya bagi sebuah prosesor AMD yg hanya merender secara single CPU untuk mengalahkan laskar P4 yg merender dengan kemampuan seperti 2 CPU (Hyperthreading).
Athlon FX-51 harus tertinggal jauh oleh P4 3.2EE standard dan P4 2.4C@3.3 yg cuma seharga $160.
Athlon64 3200 seharga $500 bahkan belum mampu mengalahkan P4 2.4C standard. Dan konyolnya lagi, Athlon XP1700@3300 seharga $50 malah mampu mengalahkan Athlon64 3200 yg harganya notabene 10X lebih mahal.
Jelas telihat bahwa Athlon64 adalah barang haram yg harus dihindari oleh para 3D designer.



POVRAY 3.5

. . rendering Benchmark
(menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 25:54

P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 25:55

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 $160 28:01

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 28:02

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 29:08

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 30:29

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 38:51


POVRAY 3.5 merupakan aplikasi 3D rendering yg sering dipakai utk menguji kinerja CPU.
Benchmark yg berat ini membuat prosesor-prosesor terbaru sekalipun membutuhkan waktu hampir setengah jam utk menuntaskan tugasnya. Seperti biasa, P4 3.2EE bertengger di posisi puncak dan diikuti oleh P4 2.4C@3.3.
Adanya L3 cache pada P4 3.2EE jelas tidak membawa pengaruh apapun, karena tingginya clock CPU lebih menentukan di sini.
Begitu pula setting FSB dan memory clock yg lebih tinggi juga tidak memberikan peningkatan kinerja yg signifikan pada P4.



SPECVIEWPERF 7.1 (Professional OpenGL application)

desktop resolution: 1024x768 32 bit
3Dsmax-02
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 10.83

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 10.81

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 10.79

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 10:63

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 10:54

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 10.41

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 10:26

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 9.16

DRV-09
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 46.74

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 45.68

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 45.28

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 45.28

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 44.54

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 41.65

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 41:56

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 37.20

DX-08
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 64.75

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 64.30

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 63.87

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 61.59

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 61.03

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 59.78

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 58.72

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 47.77

Light-06
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 15.10

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 14.86

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 14:40

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 14:35

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 13.67

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 12:10

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 11.53

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 10.80

Proe-02
P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 $900 16.78

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 16.51

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 16.05

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 15:90

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 15:75

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 13:27

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 13.14

Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 12.90

UGS-03
Athlon64 3200/2GHz (fsb200,mem200)
VIA K8T800 $500 24.86

P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 $900 24.58

P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 24.33

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 24.11

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 24.11

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 24.08

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 23.71

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 21.91


SpecViewperf 7.1 merupakan "real-world" benchmark yg menggunakan 6 jenis aplikasi OpenGL Professional yaitu:
3D Studio Max, DesignReview, DataExplorer, Lightscape, Pro/Engineering, dan Unigraphics .
Standard benchmark ini semula dikembangkan oleh IBM dan kemudian dilanjutkan oleh SGI, Digital, dan anggota-anggota SPECopc project.
Secara keseluruhan Specvierperf menyukai CPU clock, FSB, dan memory clock yg lebih tinggi. Oleh karena itu P4 3.2@3.6 dan P4 2.4C@3.3 mendominasi sebagian besar aplikasi pada benchmark ini.
Satu hal yg menjadi perkecualian adalah pada aplikasi Dx-08 (Data Explorer) dimana AthlonXP 1700@3300 ($50) secara mengejutkan mampu mengimbangi P4 3.2@3.6 ($900).
Pada sebagian besar benchmark, Athlon64 3200 sulit untuk mengalahkan P4 2.4C@3.3, bahkan pada pengujian Proe-02 (Pro/Engineering) Athlon64 3200 hanya bisa menggelinjang di posisi paling bawah.
Kinerja Athlon64 3200 juga terlihat cukup buruk pada Light-06 (Lightscape), Dx-08 (Data Explorer), dan DRV-09 (Data Review). Konyolnya lagi, pada Lightscape & Data Explorer, kinerja Athlon64 3200 bahkan masih dibawah AthlonXP 1700@3300.
Hanya ada satu aplikasi dimana Athlon64 3200 bisa tampil sebagai pemenang, yaitu Ugs-03 (Unigraphics).

Tingginya clock CPU sangat menentukan pada Specviewperf, oleh karena itu P4 2.4C yg cuma dijalankan dalam keadaan standard akan terlihat sangat lambat.
Adanya L3 cache sebesar 2MB pada P4 3.2EE hanya terlihat manfaatnya pada satu aplikasi saja, yaitu Proe-02 (Pro/Engineering). Pada aplikasi tersebut terlihat jelas, bahwa P4 3.2EE standard masih lebih gegas dibanding P4 2.4C@3.3 yg notabene berjalan di CPU clock, FSB, dan memory clock lebih tinggi.
Overclocking dengan FSB yg lebih tinggi pada P4 terbukti dapat meningkatkan kinerja pada semua aplikasi, sementara itu menaikkan memory clock tidak membawa dampak yg signifikan, bahkan pada 2 aplikasi yaitu DRV-09 (Data Review) dan Ugs-03 (Unigraphics) menaikkan memory clock tidak ada efeknya sama sekali pada kinerja.



KATEGORI 7: APLIKASI SCIENTIFIC

SUPER PI

. . 2 MILLION PI CALCULATION
(menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 1:30

P4 3.2 @ 3.6 (fsb277,mem185) +L3cache
GA: Auto (PAT off),CL2-5-2-2 1:30

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 1:37

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 1:38

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 1:39

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 1:39

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb200,mem200)
CL2-6-3-3 1:53

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 2:07


SUPER PI merupakan program simulasi penghitungan bilangan PI yg mampu mencerminkan kinerja CPU, FSB, maupun memory.
Bila beberapa waktu yg lalu prosesor AthlonXP selalu unggul di SuperPI, kini posisi puncak diduduki oleh P4 3.2EE@3.6.
AthlonXP1700@3300 saat ini hanya bisa menempel ketat dibawah P4 2.4@3.3.
Dalam hal kinerja AthlonXP pada SuperPI, setting FSB & timing memory sangat berpengaruh. Ini telerihat pada drastisnya penurunan kinerja AthlonXP1700@3300 bila FSB diturunkan dari 210 ke 200MHz dan timing diperlambat jadi CL2-6-3-3.
Sementara itu pada P4, tingginya FSB maupun memory clock sama sekali tidak berpengaruh pada performa di benhmark ini.
Adanya L3 cache justru membawa pengaruh. Meskipun SuperPI adalah program lawas yg dibuat di tahun 1995, namun program ini ternyata mampu memanfaatkan adanya L3 cache sebesar 2MB pada P4 3.2EE. Terlihat jelas bahwa P4 3.2EE standard masih tak dapat dikalahkan oleh P4 2.4C@3.3 yg notabene berjalan di CPU clock, FSB, memory clock yg jauh lebih tinggi.








KATEGORI 8: MULTI TASKING

Tujuan utama Intel menciptkan HyperThreading adalah untuk meningkatkan kinerja multitasking.
Dengan adanya Hyperthreading system akan mengena sebuah P4 sebagai 2 buah processor, sehingga 2 buah aplikasi dapat dilakukan secara bersama-sama seperti seolah dikerjakan oleh 2 prososor.
Selama ini benchmark yg dilakukan oleh banyak reviewer hanyalah benchmark secara singletasking belaka. Padahal dalam pemakaian sehari-hari kita banyak melakukan multitasking. Apabila anda meng-encode movie yg memakan waktu 1 jam, tentunya lebih efisien bila sambil menunggu pekerjaan tsb selesai, komputer bisa digunakan untuk mengerjakan aplikasi lain tanpa terbebani oleh proses encode yg sudah terlebih dahulu dijalankan. Dalam kasus seperti inilah kinerja multitasking yg dimilki sebuah prosesor cukup berperan.
Bila sebuah prosesor tidak dibekali dengan teknologi Hyperthreading, maka ketika menjalankan 2 aplikasi secara bersamaan akan terjadi penurunan kinerja yg banyak karena aplikasi yg satu menimbulkan gangguan yg banyak terhadap aplikasi yg lain.
Sementara itu dengan adanya HyperThreading, proses multitasking dapat berlangsung secara paralel & cepat, sehingga justru terjadi penghematan waktu yg banyak dengan cara menjalankan aplikasi secara bersamaan.
Karena saat ini belum ada prosesor AMD yg memiliki teknologi HyperThreading, maka tidak heran bila waktu yg dihemat dgn multitasking pada AthlonXP1700@3300 teramat sangat kecil (4.1%). Bandingkan dengan P4 HT yg rata-rata mampu menghemat waktu sebanyak 12-15%.
Perlu diingat bahwa tanpa adanya Hyperthreading, maka prosesor yg cepat sekalipun akan mengalami penurunan kinerja yg drastis ketika menjalankan banyak aplikasi.



Hot CPU Tester Lite + Super PI

1. HOT CPU Tester Lite - full CPU time
2. Super Pi 128K (menit:detik)
P4 3.2 @ 3.6 (fsb225,mem180) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 $900 0:04

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem222)
GA: StRacer (PAT off),CL2-6-3-3 $160 0:04

P4 2.4 @ 3.3 (fsb278,mem185)
GA: Turbo (PAT off),CL2-5-2-2 0:04

P4 3.2 (fsb200,mem200) +L3cache
GA: F1 (PAT on),CL2-5-2-2 0:04

P4 2.4 (fsb200,mem200)
GA: F1 (PAT on), CL2-5-2-2 0:06

AXP1700@3300/2.3Ghz(fsb210,mem210)
CL2-5-2-2 $50 6:30


Pada benchmark multitasking sebelumnya, ada tidaknya Hyperthreading mungkin kurang terlihat secara kontras.
Namun pada benchmark multitasking yang ini anda dapat menyadari bahwa tanpa adanya Hyperthreading prosesor secepat apapun dapat menjadi 600X LEBIH LAMBAT !!!
Benchmark multitasking kali ini dilakukan dengan cara membebani CPU dengan sebuah program yg menyita seluruh CPU resource, yaitu Hot CPU Tester Lite.
Hot CPU Tester Lite adalah software yg menyiksa CPU dengan program kalkulasi, program ini mengirim instruksi secara terus-menerus yg akan menyita seluruh CPU resource. Tanpa adanya HyperThreading, maka semua aplikasi lain yg dijalankan bersama software ini akan menjadi terhambat karena jalur pengiriman instruksi dijejali oleh instruksi kontinyu dari Hot CPU tester Lite. Namun dengan penggunaan Hyperthreading, instruksi lain bisa lewat jalur kedua (multi-thread).

Dalam situasi seperti diatas, adanya HyperThreading jauh lebih dibutuhkan dibandingkan dengan CPU clock 10GHz sekalipun. Sebuah prosesor secepat apapun yg tidak memiliki teknologi Hyperthreading tetap saja akan mengalami kesulitan utk menjalankan aplikasi lain bila situasinya seperti diatas. Kalaupun bisa, kinerjanya akan menjadi super lambat (nyaris seperti hang).
Hal tersebut terbukti pada pengujian diatas, dimana proses SuperPI 128K yg seharusnya bisa dikerjakan oleh AthlonXP1700@3300 dalam hitungan detik saja, jadi molor HINGGA 6 MENIT LEBIH karena seluruh CPU resource telah tersita oleh Hot CPU tester Lite.
Sedangkan sebuah P4 yg dibekali dengan Hyperthreading tidak akan pernah mengalami masalah konyol seperti diatas, karena aplikasi seberat apapun tak akan pernah dapat menyita seluruh CPU resource pada P4 HT.

Pernahkah anda merasakan komputer seakan hang ketika CDROM drive anda kesulitan membaca CD? Itu adalah salah satu contoh dimana CPU resource habis tersedot oleh proses inisialisasi/pembacaan CD sehingga bahkan utk membuka start menu saja terjadi kelambatan yg luar biasa.

KESIMPULAN : 12 POINT PENTING

1. Hanya orang tolol yg tidak mengoverclock P4 2.4C. Sebab dalam keadaan standar prosesor seharga $160 ini dengan mudah dikalahkan oleh prosesor seharga $50. Namun setelah dioverclock ia mampu mengalahkan prosesor seharga $500.
Jadi orang yg tidak mengoverclock prosesor ini sama dengan orang idiot yg membuang uang $160 dan menolak diberi uang $500. Voltase tinggi dan temperatur yg panas tidak bisa lagi menjadi alasan untuk tidak mengoverclock P4 2.4C, karena untuk mencapai angka 3GHz ke atas, prosesor ini tidak memerlukan kenaikan voltase yg tinggi yg berarti peningkatan temperatur juga tidak akan banyak. Bahkan seringkali kenaikan volatse tidak diperlukan ehingga suhu adem-adem saja meski dalam kondisi overclock. Dalam kondisi seperti heatsink standard bahkan sudah memadai.

2. Banyak yg mengira bahwa overclocking dengan P4 FSB800 dengan motherboard i865PE dan i875PE membutuhkan memory mahal (DDR PC4000). Padahal dari pengujian jelas membuktikan bahwa tingginya memory clock tidak terlalu berdampak pada kinerja. Tingginya FSB justru lebih mendongkrak kinerja. Dengan mengatur setting DRAM Ratio pada 5:4 atau 3:2 anda dapat menggenjot FSB setinggi mungkin tanpa harus menaikkan memory clock.

3. Prosesor P4 yg mahal tidak harus menggunakan motherboard mahal. Prosesor mahal seperti P4 3.2 Extreme Edition dapat jalan di motherboard i865PE yg harganya cuma berkisar $100 saja. Untuk menikmati PAT anda juga tidak harus menggunakan motherboard i875P yg notabene harganya hampir 2X lebih mahal dibanding i865PE. Sebab motherboard i865PE seperti ABIT IS7 sudah dilengkapi PAT juga. Bahkan bila PAT-nya sama-sama aktif, performa i865PE lebih tinggi dibanding i875P. Dengan PAT yg bisa di-nonaktifkan pada i865PE, anda bahkan bisa mencapai FSB tinggi tanpa kehilangan kestabilan. Hasil benchmark membuktikan overclocking dgn FSB yg tinggi sangat mendongkrak kinerja.

4. Overcloking FSB pada P4 bukanlah sesuatu yg menyebabkan kerusakan fatal. Ini dikarenakan PCI dan AGP lock yg bisa dikunci di 33MHz dan 66MHz. Oleh karena itu overclocking dgn FSB setinggi apapun tidak akan menyebabkan data di hardisk anda hilang ataupun peripheral PCI dan AGP anda rusak.
Sementara itu overcloking FSB pada Athlon64 / Athlon FX-51 adalah sesuatu yg dapat menyebabkan kerusakan fatal. Ini dikarenakan PCI dan AGP clock yg tidak dapat dikunci di 33MHz dan 66MHz. Sehingga ketika menaikkan FSB, data-data di hardisk anda serta peripheral PCI dan AGP dapat rusak.

5. Penambahan L3 cache sebesar 2MB pada P4 HT EE terbukti memberikan peningkatan kinerja sangat banyak pada game 3D. Sedangkan aplikasi yg bersifat rendering/encoding tidak mengalami peningkatan kinerja yg signifikan dgn adanya L3 cache.

6. Bila anda sudah memiliki AthlonXP Tbred yg berjalan di atas 2GHz, anda tak akan merasakan peningkatan performa yg banyak dengan beralih ke Athlon64 3200 yg notabene harganya 10X lebih mahal

7. Hanya orang tolol yg membeli AXP Barton dengan harga diatas $100 (Barton 2600 ke atas). Sebab perbedaan kinerja antara TBred-B dgn Barton sangatlah tipis. Dan dengan dana $100 ke atas lebih baik anda membeli P4 2.4C yg performa dan kemampuan overcloknya mustahil dikalahkan oleh Barton. Barton yg paling mahal sekalipun tak akan pernah bisa mengalahkan P4 2.4C@3.3

8. Hanya orang bodoh yg mengira bahwa prosesor 64-bit (Athlon64) dapat mempercepat aplikasi 32bit. Kalaupun ada peningkatan kinerja, itu sebagian besar karena adanya integrated memory controller / Hypertransport.
Pada Athlon FX-51 peningkatan kinerja lebih banyak berasal dari penggunaan dual channel Registered DDR yg harganya sangat tidak murah, serta memory controller 128-bit (Athlon64 menggunakan memory controller 64-bit)

9. Mengangap MHz Intel sama dengan MHz AMD sama seperti menganggap kecepatan Km/jam sama dengan Mil/jam.
Rasio perbandingan MHz antara prosesor Intel dengan AMD adalah 1: 1.4. Jadi 1000 MHz-nya AMD setara dengan 1400 MHz nya Intel.
Oleh karena itu untuk mempermudah perbandingan dengan prosesor Intel, AMD menggunakan angka Performance Rating.
Contoh: AMD 2.2GHz performanya dianggap setara Intel 3.2GHz maka disebut sebagai AMD 3200+

10. Untuk kelas high-end desktop, harga platform Intel jauh lebih murah drpd platform AMD. P4 3.2 Extreme Edition dapat berjalan di motherboard seharga $110 (i865PE) dan memory DDR biasa. Sedangkan Athlon FX-51 membutuhkan motherboard yg lebih mahal dan memory Registered DDR yg harganya lebih mahal drpd DDR biasa.
Bila anda sudah menggunakan motherboard i875P atau i865PE, maka biaya upgrade ke P4 3.2 Extreme Edition akan jauh lebih murah drpd biaya upgrade ke Athlon FX-51.

11. Fakta finansial membuktikan bahwa profit margin Intel mencapai 50% lebih, sedangkan AMD mengalami kerugian.
Profit Intel tetap akan selalu lebih besar drpd AMD. Karena untuk menciptakan prosesor dgn performa lebih kencang, Intel hampir tak pernah merubah design CPU-nya yg lama (tanpa kerja keras). Sedangkan AMD selalu harus melakukan perombakan design CPU mereka secara besar-besaran (kerja keras) yg tentunya menelan tenaga & biaya riset yg jauh lebih besar drpd yg dikeluarkan Intel.
Hal tersebut sama seperti perumpamaan berikut ini: Untuk mendapat uang 1 juta, seorang konglomerat hanya perlu angkat telpon sambil tidur-tiduran saja, sedangkan seorang pedagang asongan harus kerja keras berkeliling sebulan penuh untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
Selamanya pedangan asongan akan sulit untuk menjadi konglomerat, kecuali ia beruntung menang togel ratusan juta rupiah.
Selamanya AMD juga sulit untuk sebesar & semakmur Intel, kecuali mereka ketiban rontokan uang emas dari langit.

12. Seluruh hasil benchmark membuktikan bahwa P4 2.4C@3.3 adalah prosesor yg paling ideal untuk dimiliki. Karena dengan dana $160 anda dijamin dapat mengalahkan performa Athlon64 3200 seharga $500. Bahkan di beberapa benchmark Athlon FX-51 ($700) saja bisa ditaklukkan.
AthlonXP1700@3300 seharga $50 masih cukup menarik, mengingat kemampuannya yg mampu mengimbangi Athlon64 3200 yg harganya 10X lebih mahal.
Namun AthlonXP 3200 jelas bukan trandingan P4 2.4C@3.3 yg perkasa itu.



Intel VS AMD: Menunda teknologi vs. menemukan teknologi

Banyak orang yg mencoba mensejajarkan antara Intel dan AMD. Tentunya hal tersebut sah-sah saja.
Memang harus diakui bahwa upaya AMD yg banyak melakukan berbagai inovasi baru utk menyamai Intel patut diacungi jempol.
Tapi perlu diketahui bahwa sesunguhnya Intel saat ini tidak benar-benar berlomba menemukan inovasi baru dengan AMD, sebab yg dilakukan Intel saat ini hanyalah menunda teknologi yg telah ditemukannya bertahun-tahun yg lalu.
Menurut salah satu sumber Intel yg bekerja di bagian R&D, Intel saat ini bahkan tengah mengembangkan prosesor yg sudah berkecepatan 7GHz. Bila saat ini yg ada di pasaran hanyalah 3.2 GHz, itu semata karena Intel memang suka menunda memberikan teknologi kepada konsumen demi profit yg lebih maximal tentunya.
Fakta yg paling gampang, Intel saat ini jelas-jelas sudah bisa mengeluarkan P4 3.6 EE (ini terbukti dari hasil overclocking 3.2EE yg bisa jalan di 3.6Ghz dengan voltase standard). Namun Intel tetap tak mau melakukannya karena terbukti dengan P4 3.2EE saja Athlon FX-51 sudah cukup kesulitan. Jadi Intel merasa tak perlu menunjukkan kehebatan yg terlalu berlebihan, mereka lebih memilih untuk menyimpan keunggulan tsb utk dikeluarkan secara bertahap utk mengimbangi inovasi-inovasi baru yg dikeluarkan AMD.
Bukti lainnya adalah teknologi HyperThreading yg sebenarnya sudah ada pada P4 generasi pertama (Willamette) atau tepatnya ketika AMD masih mengandalkan Thunderbird. Saat itu Intel tak mau mengaktifkannya, karena merasa belum perlu. Bertahun-tahun kemudian Intel akhirnya baru mengaktifkan HT pada P4.

Apa yg dilakukan AMD sekarang ini adalah seperti seorang petinju amatir yg sanggup bertarung 12 ronde dengan Mike Tyson yg sedang berpura-pura sebagai petinju blo'on.
Mike Tyson bisa saja mengkanvaskan si pentinju amatir dalam detik pertama, tapi supaya pertarungan berlangsung lama & nilai komersilnya lebih tinggi, maka Mike Tyson memutuskan utk berpura-pura hanya menang angka saja dibanding petinju amatir tsb.

Jadi teknologi yg ada pada AMD sekarang ini sudah ditemukan oleh Intel beberapa tahun yg lalu. Dan yg dilakukan Intel saat ini adalah menunda teknologi terbarunya, dan mengeluarkannya secara bertahap demi aspek bisnis.
Bila AMD saat ini menemukan teknologi baru dgn harapan utk menyamai Intel, yg dilakukan Intel hanyalah mengeluarkan teknologi lamanya agar terkesan sedikit diatas teknologi yg barusan ditemukan AMD.

Fakta lain yg membuktikan bahwa yg dilakukan Intel adalah menunda teknologi yaitu: Chipset Intel jarang sekali memiliki bug.
Kita tahu bahwa chipset Springdale (i865PE) & Canterwood (i875P) adalah chipset yg notabene baru gres, namun anehnya sama sekali tak ada bug menghebohkan yg menyertainya.
Bandingkan dengan chipset untuk prosesor AMD yg dalam sejarahnya selalui diwarnai berbagai bug, mulai dari jaman VIA KT133, KT266, KT333, hingga nforce3 yg kini juga masih mengalami masalah dgn AGP bus. Pengguna AMD pun kerap dibingungkan dengan banyaknya revisi-revisi chipset untuk prosesor AMD.
Ini menandakan bahwa inovasi apapun yg dilakukan oleh AMD adalah MEMANG BENAR-BENAR SESUATU YG BARU, sebab bug adalah sesuatu yg identik dengan penemuan baru.
Nyaris sempurnanya chipset-chipet Intel adalah sebuah bukti bahwa teknologi tersebut sebenarnya sudah ditemukan jauh-jauh hari sebelum teknologi tersebut diperkenalkan kepada konsumen. Sebab apa yg dilakukan intel adalah menunda teknologi yg sebenarnya sudah siap untuk dipasarkan.

Jadi jelas sulit bagi AMD untuk menyalip Intel. Karena logikanya intel sudah start terlebih dahulu dan hingga kini juga tetap melakukan research dengan dana yg tentunya lebih banyak dibanding AMD.
Saat ini AMD masih berkutat dibawah 3GHz, sedangkan Intel sudah memiliki prosesor 7GHz. Maka andaikan AMD telah berhasil menembus angka 5GHz, mungkin para insinyur Intel sudah melakukan experimen prosesor di dimensi lain.



AMBISI AMD & PROSESOR 64BIT: TUKANG PARKIR YG MERASA SUDAH JADI WALIKOTA

Tindakan berani AMD mengeluarkan prosesor desktop 64-bit memang patut diakui. Sebab selama ini prosesor 64-bit & aplikasi 64-bit hanya umum diterapkan pada server & workstation, sehingga jelas aplikasi 64-bit belum pernah ditemui di segmen komputer desktop yg umum kita pakai sehari-hari.
AMD tampaknya terlalu optimis bahwa dunia software bakal membuat aplikasi 64-bit untuk mendukung prosesor mereka.
Sebab nyatanya hingga kini sambutan para developer software terhadap prosesor desktop 64-bit terkesan adem-adem saja.
Tak dapt dipungkiri bahwa banyak developer software yg merasa malas & tak berminat untuk mengeluarkan versi 64-bit.
AMD seharusnya sadar bahwa produsen CPU yg dapat mempengaruhi/mendikte developer software adalah produsen CPU yg merupakan market leader. Sedangkan AMD sendiri jelas-jelas bukanlah market leader. Market leader yg saat ini menguasai 83% market share prosesor di dunia adalah Intel. Seharusnya dengan market share AMD yg hanya berkisar 15% saja, mereka tak boleh terlalu berharap akan mampu mengubah dunia.
Aplikasi 32-bit dan 64-bit adalah sesuatu yg jauh berbeda. Untuk memanfaatkan prosesor 64-bit dibutuhkan aplikasi & juga Operating System 64-bit yg ini berarti harus merayu Microsoft selaku developer utama di segmen OS desktop utama utk membuat Windows XP 64bit.
Dengan market share prosesor AMD yg jauh lebih kecil drpd Intel, maukah Microsoft dan developer software memeras keringat untuk beralih ke dunia 64-bit?
Bila populasi becak hanya ada di Indonesia saja, apakah dengan begitu sebuah pabrik becak dapat mengajak produsen ban ternama seperti Goodyear & Bridgestone utk memproduksi ban khusus becak?

Microsoft & para developer software yg membuat software 64-bit tentu tak bisa berharap akan mendapat profit yg banyak karena keterbatasan market share AMD itu sendiri, belum lagi market share prosesor AMD 64 bit yg tentunya makin kecil lagi.
Bahkan Intel yg notabene adalah market leader saja merasa belum saatnya bagi mereka utk mengubah dunia komputer desktop dari 32-bit ke 64-bit. Oleh karena itu dalam hal peralihan ke dunia 64-bit ini AMD boleh dibilang memiliki rasa percaya diri yg terlalu berlebihan, terutama bila melihat kondisi finansial AMD yg terus merugi, yg tentunya cukup kontras dibanding Intel yg profit marginnya mencapai 50% lebih !!

Apabila seorang tukang parkir mampu berkuasa di sebuah pojok jalan, apakah dengan begitu ia mampu merubah undang-undang perparkiran di kota tersebut? Seorang walikota saja membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan ijin dari berbagai pihak hanya untuk mengeluarkan undang-undang perparkiran yg baru. Jadi jangan harap seorang tukang parkir yg hanya bermodal sempritan dapat melakukannya dengan mudah.
AMD dengan market share yg sangat kecil dibanding Intel, ibarat tukang parkir yg sedang bermimpi menjadi walikota. Jadi kita lihat saja apakah si tukang parkir ini mampu merubah dunia.



ATHLON 64-BIT: BOLEH BELI SEKARANG TAPI BAYAR BELAKANGAN

AMD memang harus diacungi jempol karena mencoba memelopori prosesor desktop 64-bit. Namun sayangnya fakta membuktikan bahwa performanya ternyata tidak lebih baik dibanding prosesor 32-bit (P4 dan AthlonXP) dalam menjalankan berbagai aplikasi yg ada sekarang (32-bit)
Performa Athlon64 dan Athlon FX-51 dalam menjalankan aplikasi 64-bit belum bisa dibanggakan karena hingga saat ini belum ada aplikasi desktop 64-bit.
Jadi sangatlah konyol bila anda rela membayar mahal demi sebuah iming-iming performa 64-bit yg saat ini belum dapat dinikmati.
Ibaratnya: Bila sekarang masih musim kemarau, apakah cukup waras membeli jas hujan dengan harga yg jauh diatas normal hanya karena jas hujan adalah barang langka di musim kemarau? Bukankah lebih bijaksana bila menunggu musim hujan tiba dan saat itu jas hujan murah & banyak tersedia dimana-mana. Apalagi dengan menggunakan jas hujan di musim kemarau tak berarti anda akan terlihat lebih keren (justru terlihat tolol).
Saat ini memang hanya Athlon64 / FX-51 yg merupakan satu-satunya prosesor desktop 64-bit, sehingga AMD tentunya mematok harga yg cukup mahal. Namun menggunakan prosesor 64-bit pada saat sekarang ini tak berarti anda akan mendapat kecepatan lebih kencang drpd prosesor 32-bit yg biasa. Pada beberapa benchmark bahkan AXP1700@3300 seharga $50 sanggup mengalahkan Athlon64 3200 seharga $500.

Karena masa depan software desktop 64-bit masih belum jelas, maka membeli Athlon64 dan Athlon FX-51 saat ini sama dengan membayar mahal demi sebuah manfaat yg belum jelas kapan dapat dirasakan.
Kalau hanya utk mempercepat aplikasi yg ada sekarang ini, prosesor dgn harga dibawah $200 saja sudah cukup.
Pada hasil benchmark terbukti bahwa P4 2.4C@3.3 seharga $160 tak pernah bisa dikalahkan oleh Athlon64 3200 yg harganya $500. AthlonXP 1700@3300 seharga $50 bahkan memberikan kinerja yg terkadang melebihi Athlon64 3200.

Jadi kalau anda memang berniat membeli Athlon64 3200 atau Athlon FX-51 yg harganya mahal itu, REVIEWLAND menganjurkan anda untuk membayar SETENGAH HARGANYA SAJA, sisa uangnya baru anda bayar setelah Windows XP versi 64-bit & berbagai aplikasi 64-bit lainnya muncul dan mendapat dukungan driver yg lengkap.
Hukum konsumen mengatakan: bayarlah apa yg dapat anda nikmati, jangan membayar sesuatu yg tak dapat dinikmati.
Untuk saat ini performa 64-bit jelas tak dapat dinikmati oleh konsumen, jadi boleh dianggap sebagai iming-iming/janji belaka. Janganlah mau membayar sesuatu yg hanya bersifat janji.
Logikanya, JANJI harus dibayar dengan JANJI pula. Jadi janji AMD akan populernya aplikasi 64-bit cukup anda bayar dengan janji anda untuk membayar uang sisanya di kemudian hari.

finish...

Updates Via E-Mail

Labels